Sunday, August 20, 2017

City Tour to Kota Lama Semarang 2017


Poster City Tour 2017


Berbagai event diselenggarakan untuk memperingati 72 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, termasuk event yang saya ikuti tanggal 20 Agustus 2017 ini. Pada hari Kamis, tepat tanggal 17 Agustus, teman saya mem-forward poster di grup WhatsApp mengenai event ini. Setelah bertanya-tanya siapa yang tertarik, ternyata hanya saya yang pengen ikut event ini. Bersama dengan seorang teman kantor saya, akhirnya saya puaskan keinginan saya ini.

Pukul 7 pagi, saya sudah tiba di depan Art Gallery Semarang yang berada di belakang Resto & Café Spiegel. Sementara teman saya baru saja tiba, dan memarkir sepeda motornya di dekat Gereja Blenduk. Sesaat saya dihubungi mas Kusri, penggagas acara ini, menanyakan apakah saya sudah tiba di lokasi, karena guide yang akan mengantar saya sudah menunggu. Singkatnya, saya bertemu dengan mas Rofiq, pemandu saya selama city tour ini.


 Keadaan di dalam Gedung milik Raja Gula

Parkiran sepeda onthel di dalam gedung

Perjalanan dimulai setelah sebelumnya saya menukar sepeda gunung saya dengan sepeda onthel yang menurut mas Rofiq mungkin diproduksi sekitar tahun 1970an, tapi kondisi masih sangat bagus. MTB saya aja kalah kempling. Lha iya, saya ini paling malas mencuci kendaraan wkwkwkwk… Sepeda-sepeda onthel disimpan di gedung di belakang IBC, Ikan Bakar Cianjur. Alamat tepatnya kurang hapal saya :D Mulai dari sini, pemandu mulai bercerita seputar sejarah gedung tersebut. Gedung megah ini dulunya adalah milik Raja Gula Semarang, orang kaya raya di Semarang pada jaman penjajahan Belanda dulu.
Jam berdiri unik di dalam gedung
Tau caranya naik sepeda ini? :D

 Gedung Raja Gula ke lantai dua

Sedikit cerita tentang Raja Gula yang masih saya ingat. Raja Gula ini berasal dari China. Ayah dari Raja Gula ini dulunya adalah penjual beras kecil-kecilan, yang ia pikul kemana-mana. Dari usaha kerasnya ini, ia mulai menikmati hasilnya, dan mulai memperkerjakan pribumi untuk berjualan beras. Lambat laun kekayaannya mulai terlihat, hingga lahir Raja Gula yang menguasai banyak sekali gedung-gedung besar di sepanjang wilayah Semarang Kota Lama. 

 
Mantan gedung milik Raja Gula

Mejeng di depan Kantor Pos Semarang, seberang Titik Nol Semarang


Perjalanan city tour pun dimulai. Kami mampir di banyak tempat yang memiliki sejarah sendiri-sendiri. Sayangnya, saya ngga menghapal semuanya hahahaha… Kisah lain tentang orang kaya lainnya ada di bagian lain kota lama, Tasripin. Beliau ini juga termasuk orang terkaya dalam sejarah Semarang. Sayangnya, keluarganya tidak bisa mengelola kekayaannya sedemikian rupa hingga tidak bersisa hingga sekarang. Bahkan rumor yang beredar, keluarga Tasripin ini tidak ingin kekayaan mereka jatuh ke tangan orang lain, hingga mereka menikahkan keturunan mereka dengan kerabat dekat, hingga ada penurunan mutu gen pada keturunan mereka. Memilukan ya.

Selanjutnya kami menyempatkan diri mampir ke Kampung Melayu. Di kampung ini, dulunya seluruh ras dan suku pernah berkumpul disini, hingga berdiri sebuah klenteng di luar wilayah Pecinan Semarang. Yang menarik disini adalah Masjid Menara yang terletak di jalan Layur. Menurut pemandu, menara ini sempat beberapa kali terkena petir hingga harus dilakukan renovasi.


Mejeng di depan Masjid Menara, Kampung Melayu

Masih di dekat jalan Layur, kami berkesempatan mampir di sebuah rumah panggung yang menurut pemandu masih asli bentuknya. Kami beruntung bertemu dengan si empunya rumah, Pak Anang. Menurut beliau, banyak sekali mahasiswa Fakultas Arsitektur yang mempelajari rumah ini. Mulai dari teras yang unik hingga ubin lantainya juga berbeda. Menurut Pak Anang, beliau sudah menempati rumah itu dari mulai kakeknya, hingga ayah dan anak serta cucunya. Kami tidak hanya mendengar cerita tambahan tentang Semarang jaman dulu, juga mendapatkan suguhan teh panas dan kudapan. Hmmmm…

Pak Anang, si empunya rumah panggung

Rumah Panggung tampak depan

Setelah sempat mampir cukup lama di Kampung Melayu, kami kembali mampir cukup lama di Kampung Batik. Sesuai dengan namanya, Kampung Batik ini adalah pusat pembuatan batik, yang sayangnya, bukan lagi batik khas Semarang, karena tidak lagi terdapat dokumen batik asli. Alasan tepatnya saya lupa sih sebenarnya hahahaha… Tapi satu hal yang saya ingat dari cerita pemandu adalah, Kampung Batik ini pada jaman penjajahan Jepang sempat dibakar habis. Pada saat itu, Jepang sudah terdesak untuk mengakui kekalahannya terhadap Sekutu setelah sebelumnya terjadi pengeboman di Hiroshima dan Nagasaki. Karena timbunan beras yang teramat banyak di Indonesia yang diletakkan di Semarang waktu itu membuat Jepang belum juga mau meninggalkan Indonesia. Alih-alih menyerah, Jepang justru membuat ontran-ontran, yaitu membakar Kampung Batik itu. 

Kampung Batik yang cantik nan asri

Kampung Batik yang asri
 
Oya, di kampung Batik ini, pengunjung bisa bertemu dengan Pak Loui atau Pak Lewi ya? untuk belajar batik. Ada beberapa paket yang ditawarkan dan pattern yang bisa dipelajari. Yang jelas, dengan membayar sejumlah uang, penbgunjung akan membawa pulang hasil batiknya. Di kampung yang mungil tapi asri ini, banyak sekali ide-ide yang muncul dari mulai belajar batik hingga hal lain yang rupanya nantinya akan muncul. Di sini, saya dan teman saya sempat mencoba egrang, salah satu permainan tradisional. Sayang, mungkin karena bobot tubuh yang berlebih, hingga membuat saya kesusahan mengangkat tubuh sendiri ke atas egrang wkwkwkwk… Tapi asli, ternyata susaaah ya naik dan berjalan stabil di egrang itu.

Cuma nggaya dengan egrang :D
 
Setelah berpamitan, kami melanjutkan perjalanan menuju ke arah Gedangan. Menurut cerita, dulunya, tempat ini adalah kebun pohon pisang, yang dalam bahasa Jawa adalah gedang. Itulah kenapa lokasi ini disebut Gedangan. Disini, ada 2 tempat bersejarah, yaitu sekolah susteran (tempat bersekolah calon suster/ biarawati) dan Gereja Gedangan. Yang menyenangkan adalah di susteran ini, kami para turis diperbolehkan masuk bebas. Meski sebenarnya pemandu ingin menunjukkan plakat di bagian belakang susteran, tapi karena suster yang bertugas memberi ijin sedang tidak ada di tempat, maka kami harus rela mengambil foto di bagian taman depan Susteran. Itu saja saya sudah senang sekali.


Bagian dalam sekolah susteran Gedangan
Suasana asri di dalam susteran
 
Perjalanan dilanjutkan ke sebuah gedung lama yang masih di sekitar situ. Saya kurang hapal nama tempatnya, tapi yang jelas, menurut pemandu, tempat tua ini tidak lagi dipergunakan, hanya sebagian kecil yang masih digunakan untuk tempat tinggal. Kalo diliat siang hari, terlihat unik dan eksotik, tapi ngga kebayang di malam hari. Hihihihi…. 


Gedung tua

Tak terasa kami hampir menyelesaikan city tour ini. Setelah mengembalikan sepeda pinjaman, dan kembali mengeluarkan sepeda gunung saya, kami berpamitan. Sebelumnya kami sempat bertemu dengan mas Kusri, penggagas event yang malam sebelumnya saya berondong pertanyaan seputar event ini, yang ternyata adalah pekerja seni di Sobokarti. Saya juga bertemu dengan Pak Wawan, yang memiliki banyak ide untuk kegiatan anak-anak muda untuk menghidupkan Kota Lama Semarang tercinta. Di sana saya juga bertemu dengan anak-anak muda yang sedang belajar menulis jurnalis serta beberapa anak muda yang belajar memotret. Saya cukup terharu dengan usaha mereka dalam menghidupkan Kota Lama yang dulu pada awal saya bergabung dengan bike to work community dan sering wara wiri di seputar Kota Lama, tempat itu masih sepi dan nyaris tak tersentuh oleh pihak manapun. Semoga ke depannya, lokasi ini akan semakin tertata dan banyak anak-anak muda yang bergabung untuk menghidupana kembali Kota Lama yang legendaris ini. :)

Salah satu properti muter-muter Kota Lama

Friday, March 3, 2017

Membaca Ebook secara Legal Part 1



Membaca Ebook secara Legal. Kenapa tidak?

Halooooowww… Lama saya ngga nisi blog ini yah… Terlalu banyak draft, tapi ngga kunjung kelar nulisnya … hahahaha…

Baiklah, sekarang saya mau share dua aplikasi membaca ebook di gadget secara legal. Biasanya saya memilih yang gratisan alias illegal. Boleh dong sedikit berubah :D



Aplikasi membaca ebook ini sudah saya ketahui beberapa waktu lalu ketika teman2 blog saya mulai menggunakannya. Tapi karena mengingat timbunan paperback saya yang begitu banyak, jadi saya mengabaikannya. Tapi saya ngga bisa bertahan lama ketika tiba-tiba saya ingin membaca satu buku yang harga paperback-nya dengan diskon setara dengan satu ebook di Scoop. Hasrat membaca ada, membeli juga ngga masalah, yang menjadi masalah adalah tempat penyimpanan yang semakin sempit, akhirnya saya memutuskan berlangganan Scoop. Horeeeyyy…
 
Ada satu trick yang membuat saya cepat memutuskan berlangganan, yaitu karena ternyata satu akun username, bisa digunakan di 5 gadget. Tentu saja mengingat saat ini satu orang bisa memegang lebih dari satu gadget, paling tidak satu smartphone dan laptop. Scoop bisa juga dibuka di laptop lo.

Setelah menemukan 4 partner lain untuk diajak berlangganan Scoop, diputuskan satu diantara kami membuat satu akun dan kemudian disebar ke 4 calon pengguna lainnya. 

Berikut sedikit gambaran yang kami lakukan ketika pertama kali berlangganan Scoop

1.       Satu diantara kami membuat akun yang kemudian disebar ke semua calon pengguna
2.       Karena berlangganan Scoop ini sifat pemmbayarannya perbulan, jadi kami memutuskan satu diantara kami membayar untuk bulan pertama, dan yang lain akan menyusul membayar di bulan-bulan berikutnya. Bandingkan jika misalnya kami berlima harus mengumpulkan uang terlebih dahulu sejumlah 89.000 ke bendahara, dan baru ditransfer setelah lengkap, bakal lama, dan rempong. Belum lagi ada beberapa bank yang tidak bisa melakukan transfer dibawah 50.000.
3.       Setelah masalah pembayaran selesai, kami sudah bisa menikmati deretan buku yang menggiurkan yang ada di library took, setelah men-download aplikasinya tnetu saja. Aplikasi Scoop bisa diunduh di Play Store untuk pengguna Android, dan Apple Store untuk pengguna iPhone atau iPad.
4.       Buku-buku yang tersedia dengan button ‘download’ yang bisa diunduh secara langsung setelah kita berlangganan, tapi jangan salah kalo misalnya kita lupa membayar bulanan, ebook yang sudah diunduh tak bisa lagi dibaca, kecuali masa berlangganan diperpanjang.
5.       Buku-buku yang tersedia datang dari berbagai genre, dari mulai fiksi maupun non fiksi. Segala resep juga ada kok. Silakan pilih yang disukai.
6.       Dari sekian besar buku, sebagian besar adalah buku-buku terbitan Gramedia dan KPG. Untuk majalah pun juga sebagian besar terbitan Gramedia, seperti Intisari, hai, Nakita, Tabloid Bintang Indonesia, dll. Sementara untuk korann, sangat sedikit yang tersedia untuk diunduh karena lebih banyak yang kudu dibeli.

 Screen shot 'timbunan' saya di Scoop 😀😀

Kelemahan Scoop dibandingkan aplikasi ebook reader lain

1.       Buat pembaca berkacamata seperti saya, bentuk font adalah yang paling crucial. Tapi saya bersyukur karena saya memasang Scoop app ini di tablet ukuran 8 inchi. Menggunakan format seperti PDF, tidakk memungkinkan novel-novel di Scoop di zoom layaknya ebook berformat epub. Kalopun ingin zoom in, pembaca kudu rela menggeser layar ke kiri ke kanan untuk menyelesaikan satu baris. Duh repooott…
2.       Pengaturann brightness juga tidak tersedia di Scoop app. Selama ini saya mencoba mengurangi kecerahan layar di pengaturan gadget. Dengan brightness yang paling minim pun, jika saya membaca dengan penerangan minim, juga bakal terasa terlalu terang.
3.       Tidak adanya engine ‘search’ ketika membaca. Di beberapa aplikasi membaca buku elektronik yang pernah saya gunakan, engine ini selalu ada. Tujuan tentu untuk mengulang beberapa bagian yang ingin dibaca ulang, atau paling tidak bagian untuk kita quote. Selain itu, Scoop juga tidak menyediakan fasilitas copy paste untuk beberapa kalimat untuk nantinya kita share di media social atau di document untuk keperluan menulis review nantinya. 

Melihat kelemahan Scoop ini, saya jadi merasa bahwa aplikasi ini benar-benar memberi kesan membaca buku paperback secara utuh, hanya dalam format digital. Buat saya pengguna banyak aplikasi ebook reader saja yang suka ribet dengan kekurangan ini dan itu :D Tapi overall, menyenangkan sekali membaca menggunakan Scoop ini karena saya bisa membaca buku-buku baru tanpa saya bingung mencari tempat dimana akan menyimpan buku tersebut. Dan yang jelas, lebih hemat. 

Nantikan review saya tentang ebook reader lainnya di Membaca Ebook Legal part 2 ya :D